Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Senja,Hujan, dan Kamu

Senja,Hujan, dan Kamu Selepas Senja sore itu 23 mei 2017 Secangkir susu panas yang masih mengepul Di temani pertichor menyesaki paru-paru Mengobati kekecewaan karena jingga senja Hilang di telan mendung Meski senja tak sepenuhnya hilang Dan hujan tetap saja istimewa Senja,hujan, dan kamu Dalam memo yang telah usang  Lapuk termakan rahasia apalagi waktu Bahkan terbuang sia menyemai harap Mengukir rentang tentang kata Yang semoga merangkum temu. Ada hati yang jengah Ada langkah yang lelah Dengan perasaan yang kian mendamba Dengan hasrat yang semakin berharap Dengan rasa yang menuntut menjerat raga. Tanah basah sore itu telah berkata Menjadi pecundang itu melelahkan Katakan iya untuk iya, tidak untuk tidak Rasa itu tak bisa di miliki sendiri Hingga waktu menyadarkan, waktumu habis Dan penyesalan adalah pernyataan klise Seorang pencundang, tak berarti. Hanya saja kamu perlu ingat Kalau saja kumulus bertemu petang kapanpun itu Biarlah gerimis menjadi temp...

72 Tahun Perjalanan Palang Merah Indonesia

17 September 1945-2017, PMI Membangun Masyarakat Tangguh Badan kemanusiaan Palang Merah Indonesia kemarin 17 September 2017 atau selisih 30 hari dari kemerdekaan bangsa Indonesia, genap berusia 72 tahun. Semenjak Palang Merah Indonesia berdiri tentunya tak terhitung lagi jumlah aksi kemanusiaan yang bermanfaat bagi semua orang. Berbagai generasi telah merasakan peran besar PMI di Indonesia, termasuk penulis adalah seseorang yang merasakan betul peran nyata dari PMI,  Ya. 19 tahun yang lalu Ibu dari penulis mengalami kritis saat proses persalinan, hingga harus membutuhkan segera tambahan darah, kebetulan saat itu rumah sakit tempat ibu penulis bersalin sedang kehabisan stok darah yang bergolongan sama dan pada saat itu lah seorang anggota PMI berjuang semampunya membawakan orang untuk diambil darahnya lalu di transfusikan ke ibu penulis, meski pada saat itu jarak yang ditempuh tidaklah dekat, kagumnya lagi beliau sama sekali tidak meminta imbalan seperserpun...

Panas Ibu Kota Yang Meluas

  Jakarta, Sebuah Peringatan untuk Krisis Kemanusiaan dan Toleransi di Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia saat ini, terdiri dari berbagai macam suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan tentunya agama, jalan yang diyakini setiap insan untuk kembali kepada sang pencipta serta berbagai perbedaan lain yang menciptakan ikatan persatuan dalam bermasyarakat yang sudah turun-temurun. Bahkan ikatan persatuan itu telah muncul sejak 1336 masehi saat seorang patih dari kerajaan terbesar nusantara saat itu Gajah Mada bersumpah yang bahkan sumpahnya menggelegar hingga pelosok dunia. ” Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa ” tidak akan beristirahat sebelum bersatunya Nusantara. Jauh sebelum negara Indonesia berdiri. Bhinneka Tunggal Ika Berbeda-beda namun tetap satu jua. Sebuah ikrar suci tentang sejarah sebuah negara yang mampu merdeka lewat tangan sendiri, perjuangan para pahlawan yang tidak mempedulikan perbedaan...

Rindu

Terselip seulas perasaan tak terlupakan bernama rindu Rindu yang bernaung dengan senja Membisikan kata abstrak menguatkan hati Ingin rasanya ku ukir aksara rindu di tiang langit maha agung. Bersama hembus angin yang menghantarkannya padamu disana Meski kadang jarak memaksa ketidakberdayaan hati untuk pergi dan pulang Rindu yang terkirim entah kemana Mengguratkan samar-samar bayang. Kesempurnaan cucu hawa, meluluhkan hati Yang menenggelamkan rindu di ujung gerimis Semoga janjimu seperti fajar yang selalu menjanjikan senja Semoga harap seindah penantian ini.

Kajen, 20 Juni 2015

Aku termangu kosong di jendela Yang membiaskan gerimis diluar Juga rindu yang menyekap melawan takdir Tidur 1 jam yang lalu menggugah apa yang tak pantas Rasa lalu yang masih terecap manis Seolah kini kamu menyemai harap Walau itu redup, hingga membuatnya tak pasti. Waktu boleh saja berderu-deru cepat berlalu tanpa jejak Tapi rasa itu diam beku bersama sendu Tetap menunggu apa yang belum selesai Aku tau ini bukan sebuah kesengajaan apalagi keajaiban Melainkan rencana dari awal, yang diwujudkan dalam bentuk takdir " Hidup seperti pohon, ia takkan memakan buahnya sendiri, sekalipun orang tak pernah berfikir tentangnya " Seperti aku, tak peduli ada batas Tak peduli hatimu terpancang bukan padaku Sebaik-baiknya hidup Semoga tetap bisa berarti bagimu. Penat rasanya semuanya bercampur Berevolusi menjadi beban yang tak terperi Kopi malam ini semoga menguapkan semua beban Kopi ini menyadarkanku, selain cintaku yang terlambat Ada yang sama-sama pahit Kopi ...

Hujan,Rahasia, dan Januari

Bulan pertama gerimis masih enggan pergi beberapa sajak-ku masih bersemi Bersama rahasia yang masih menanti Iya Januari Aku tau, Tuhan tidak memberikan kepastian Hanya aku saja yang melebihkan takdir Aku juga tau, Tuhan tidak menyuruhku berhenti Hanya aku saja yang lelah berharap Padahal Ia berkata, jangan jadi pecundang tentang perasaan Akui iya, untuk iya. katakan tidak, jika tidak. Balasku, Perasaan tidak mesti soal kritik yang harus terkirim Lebih kepada doa yang terbisikan diam-diam. Hujan sehari-sehari Tentang belajar untuk tak sekalipun melupakan kenangan Lebih dari itu walau jatuh berkali-kali Hujan tidak pernah mengeluh Pada takdir Kenapa? Hujan jatuh untuk alasan yang tepat. Hujan,Rahasia dan Januari 3 hal yang mampu menyekapku saat ini Ketika hujan masih deras Ketika terpikat senyum indah itu Sedangkan hanya rahasia yang dapat menjawab semuanya Tentang perasaan dan rasa Dibulan Januari.