Islam,
Sastra, dan Indonesia
Sastra Kebangsaan dalam
Islam Nusantara
Sudah menjadi wajar
jika hari jadi sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia dirayakan secara
meriah. Begitu juga yang terjadi hari Rabu, 4 Maret yang lalu, bertempat di
kantor PWNU Jateng, rangkaian perayaan Harlah Nadhatul Ulama Jawa Tengah
dilaksanakan, kegiatan yang mengambil tema “Meneguhkan Kembali Kecintaan kepada
NKRI, Menuju Indonesia yang Mandiri, Maju dan Berkadilan” dirayakan dengan
cukup meriah dan penuh rasa sukacita tak hanya umat Islam saja namun juga umat
lintas agama, golongan, dan perbedaan-perbedaan yang ada.
Seperti yang sudah diketahui, dalam
penamaan perayaan ulang tahun Nadhatul Ulama (NU) tersebut memakai istilah
Harlah yang merupakan akronim dari Hari Lahir. Tak seperti
organisasi-organisasi Islam lain yang menggunakan istilah arab seperti Milad
dan juga tak menggunakan istilah HUT yang identik dengan perayaan instansi
pemerintahan. Hal itu menjadi tanda bahwa organisasi NU bukan instansi yang di
miliki oleh pemerintah dan hanya mewakili umat Islam saja, namun juga milik
seluruh masyarakat Indonesia.
Namun ada yang berbeda dengan
perayaan malam itu, dimana seni sastra berandil besar atas kemeriahan perayaan
tersebut, perayaan yang sekaligus peluncuran buku kumpulan puisi berjudul
“Sujud Bayang-Bayang” itu disertai dengan pembacaan puisi dari berbagai kyai,
cendekiawan, dan tokoh-tokoh terkemuka tanah air. Buku Antologi puisi tersebut
berisi kumpulan puisi yang bertemakan bagaimana kiprah Nadhatul Ulama selama 97
Tahun turut merawat persatuan dan kesatuan Indonesia.
Perayaan tersebut tentu memupuk asa
untuk seni dan budaya sastra khususnya puisi lebih diminati kembali oleh
masyarakat luas khususnya para remaja, tak dapat dipungkiri bahwa budaya sastra
yang sudah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia beberapa tahun belakang kian
sulit mendapatkan ruang-ruang apresiasi dari pemerintah maupun masyarakat.
Tentu ruang yang di ciptakan oleh NU pada perayaan Harlah ke 97 tersebut
sedikiit banyak mampu memantik semangat berkreasi di dunia sastra.
Mengenai budaya sastra puisi, tentu
dalam perjalanannya dengan lika-liku masyarakat Indonesia sangat erat sekali,
bagaimana peran sastra puisi yang senantiasa mengikuti kondisi bangsa. Sastra
puisi yang bahkan sudah ada sejak Indonesia masih terdiri atas
kerajaan-kerajaan menjadi bukti bahwa budaya sastra puisi tak pernah lepas dari
kultur masyarakat Indonesia.
Dalam
catatan sejarahnya para walisongo dan tokoh pendiri NU juga menggunakan budaya
sastra puisi sebagai sarana dakwah kepada masyarakat agar ajaran Islam lebih
dapat diterima oleh khalayak luas. ini menjadi bukti nyata ke-eratan antara
Islam, Nadhatul Ulama, Sastra, dan Indonesia yang sudah terjalin sejak dahulu kala.
Perayaan Harlah NU yang dibalut
dengan budaya sastra puisi seolah menjadi tanda ideologi NU yang erat sekali
hubungannya dengan Indonesia-an. Kultur budaya yang sudah mengakar dalam
ideologinya menjadi marwah peran NU yang senantiasa mampu menembus batas segala
perbedaan di Indonesia selama 97 tahun lamanya. Selamat hari lahir Nadhatul
Ulama semoga konsisten akan ideologi Islam Nusantara-nya yang senantiasa
mengakulturasi antara Islam, Budaya, dan Indonesia.
Komentar
Posting Komentar