Langsung ke konten utama

Merelakan Bakti untuk Mereka yang Terbuang


“Tuhan memilihkan jalan untuk saya berbakti kepada mereka yang terbuang” –Endah, Ketua Pengurus Yayasan Rela Bhakti.

            Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan dan tidak ingin untuk mengunjungi sebuah tempat yang disebut sebagai panti jompo. Namun, Tuhan berkehendak lain Sabtu, 30 November yang lalu, tugas mata kuliah Psikolinguistik mengharuskan saya bersama teman-teman satu kelompok untuk berkunjung ke salah satu panti jompo di kota Semarang, Panti Rela Bhakti namanya. Yayasan panti jompo yang menampung lansia wanita terbuang dari keluarganya. Yayasan ini merupakan anak cabang dari yayasan serupa di Genuk.
            Wah sing ganteng kok siji tok kii” ujar salah satu dari mereka menunjuk saya setelah kami datang berkunjung sore itu. Ya, sore itu saya menjadi pusat perhatian para oma-oma disana karena kebetulan saya laki-laki sendiri. Sejujurnya saya tidak nyaman berada ditempat itu, bukan karena tidak suka, namun kondisi mereka yang memprihatinkan jauh dari kata bahagia membuat saya seakan-akan merasakan getir yang mereka rasakan. Bagaimana sosok perempuan yang dulu merawat anak-anaknya hingga dewasa, dan saat usia senja begini mereka harus hidup ‘terbuang’ dari keluarga.
            Sore itu oma-oma yang berjumlah 22 orang memang sengaja di kumpulkan oleh pengurus panti untuk makan malam sekaligus berbincang-bincang sore, memang dalam prakteknya banyak diantara mereka yang sudah tak mampu untuk berkomunikasi lagi, hanya duduk di kursi rodanya dengan tatapan kosong memandang ke arah kami yang mungkin seumuran dengan cucu-cucunya di rumah. Hanya ada 3-4 orang yang masih mampu untuk berkomunikasi dengan baik dengan kami menceritakan bagaimana aktifitas sehari-hari di Panti.
            Berdasarkan informasi dari salah satu pengurus panti, memang rata-rata penghuninya adalah lansia berumur 65 tahun ke atas sehingga maklum jika sudah tak mampu lagi dalam berkomunikasi, sebagian yang lain lirih dan tidak jelas dan hanya beberapa saja yang intonasi dan pelafalan dalam berbahasa masih sangat baik. Dan itu sesuai dengan hasil observasi kami dimana beberapa orang harus kami dekati satu persatu agar komunikasi dapat kami dengar dengan baik.
            Yang menjadi sangat miris ialah saat waktu makan malam tiba, dan beberapa diantara kami diminta oleh pihak panti untuk membantu menyuapi, ada beberapa oma-oma yang tak kuasa menitikan air mata yang mungkin teringat akan anak-anaknya. Dan tentu saja saya dan beberapa yang lain  lebih memilih untuk menghindar keluar dari panti sebentar daripada harus menitikan air mata juga. Bagi saya pribadi tentu tugas kali ini adalah tugas paling berat yang harus saya lakukan selama kuliah, melihat secara langsung kondisi mereka yang bisa dikatakan jauh dari kata layak dan pantas.
            Saya pribadi saat selesai makan malam mengantar salah satu oma yang tidak mau disebutkan namanya ke ranjang tempat tidurnya, dia menunjukan hasil uang tabungannya selama 3 tahun di panti tersebut alasaannya sederhana akan ia berikan kepada cucunya yang berumur 6 tahun saat natal desember nanti jika keluarganya berkunjung. Sungguh miris sekali mengetahui fakta tersebut dimana sosok seorang perempuan yang di masa tua harus terbuang masih memikirkan cucunya yang bahkan mungkin sudah tak akan berkunjung kembali.
            Kisah memilukan ini mungkin adalah realita yang akan kita temukan saat berkunjung ke panti jompo lainnya, dimana ya hanya lewat cara-cara tersebut mereka berharap akan kerinduan, berharap pulang ke rumah, bersua keluarga terkasih. Namun kenyataan berkata lain mereka bertahun-tahun tetap dilupakan, tidak pernah dijenguk apalagi dibawa pulang berkumpul bersama keluarga di rumah. Kondisi fisik yang sudah melemah, sakit-sakitan tentu mungkin menjadi alasan utama anak-anak dan sanak keluarga lebih memilih menitipkannya daripada harus mengganggu aktifitas sehari-hari.
            Saat kami lakukan wawancara dengan Bu Endah ketua Pengurus Yayan Panti Werda, memang sejak berdirinya panti ini 28 tahun yang lalu para pengurus sepakat bahwa panti ini hanya mengurusi mereka para lansia perempuan yang terbuang, terlantar, dan tidak terurus oleh sanak keluarganya karena berbagai macam persoalan seperti anak-anaknya yang kurang mampu dalam hal ekonomi, tidak mau merawat, dan alasan lain. Beliau mengatakan juga tidak menerima segala bentuk dana dari pihak keluarga, pendanaan panti ini seluruhnya adalah dari para donatur yang memang ingin membantu kehidupan panti secara sukarela. Begitu pun para pengurus dan pengasuh yang memang sedari awal berkomitmen mengabdikan diri secara ikhlas untuk mereka.
            Tentu yang menjadi pertanyaan adalah, sebegitu sibuknya mereka anak-anaknya? Hingga harus membuang sang ibu tercinta yang sudah melahirkan dan merawatnya hingga dewasa? Seolah-olah Ibu tercinta tiada lagi memiliki arti karena usia dan penyakit tua ‘Merepotkan’ jika bisa sibuk bekerja tak bisakah meluangkan waktu sedikit saja untuk rutin membesuk membawakan makanan yang disukai, bercengkrama maupun sekadar berbagi kebahagiaan dan saling melepas kerinduan.
            Sekelebat pemikiran muncul tentang bagaimana refleksi saya 30-40 tahun nanti yang akan datang? Apakah saya akan hidup bahagia di masa tua menggedong cucu-cucu di teras rumah ketika sore hati atau malah akan bernasib harus mendekam di sebuah rumah yang luas dengan masing-masing bangsal dengan ranjang layaknya sebuah penitipan manusia-manusia terlantar.
            Sungguh rumit dan pelik rasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Benar-benar sulit untuk menebak kira-kira apa motivasi sanak keluarga hingga tega harus membuang orang tua terkasih ke panti jompo. Saya kira mungkin cara terbaik hanyalah mengiringi doa para oma-oma disana untuk senantiasa menikmati hidup dan mendapatkan kelapangan dalam ketenangan seraya memohon agar kelak kita senantiasa di berikan kasih sayang anak cucu hingga akhir jaman.
            Dan terakhir untuk oma-oma di Panti Bakti Werdha dan seluruh panti jompo lain melalui tulisan ini semoga harapan senantiasa tumbuh dalam sanubari, bisa sampai ke nurani anak dan cucu dimanapun keberadaan mereka, bahwa ada yang mengharap kehadiran kalian untuk sekadar berbagi kebahagiaan dan percayalah doa untuk kalian tak pernah putus dari balik ranjang-ranjang panti jompo yang kalian pesan untuk menjadi tempat terakhir orang tua yang kalian sayangi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Problematika Pembelajaran Jarak Jauh

              Sejak penyebaran virus covid-19 yang kian merebak di Indonesia, berbagai kebijakan untuk menanggulangi dampak penularan dibuat oleh pemerintah. Tak terkecuali mengenai kebijakan sekolah di tengah pandemik, yakni pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 9 Maret 2020 setelah menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 2 tahun 2020 dan nomor 3 tahun 2020   tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19)             Sejak resmi diberlakukan PJJ tersebut, berbagai unsur kependidikan baik tenaga pendidik maupun peserta didik mulai sedemikian rupa menerapkan sistem yang paling efisien agar pembelajaran tetap berjalan seperti pada pembelajaran tatap muka atau setidaknya mendekati. Nam...

Pesan Desember

Desember, perihal hujan yang sekian lama tak bertemu dan kamu yang ternyata sekadar bertamu. Tenang saja, ingatan tentangmu akan berumur panjang dan terpelihara dengan baik. kapanpun kamu butuh, datanglah kemari. akan ku suguhkan secangkir kopi susu kesukaanmu sembari ku ceritakan mengenai suatu hari di akhir desember hujan yang lama tak bertemu dan seseorang yang sepanjang tahun sekadar bertamu. Ingatlah sebagai aku yang pernah menjadi bagian paling penting sebelum pada akhirnya menjadi sebatas kenang, tak lagi memiliki bagian. Apa kabar? Lihatlah tanda tanya itu puan, sebagai bukti ada seorang lelaki yang sepanjang tahun bermusim hujan tanpa pernah bersemi Yogyakarta, 27 Desember 2019.