Suatu
malam di deretan ruko kawasan Semawis Semarang sebuah warung kopi sederhana
tidak ada bangku yang nyaman,ac apalagi wifi. Yang ada hanya papan nama yang
sudah lapuk,bangku kayu panjang dan meja yang bahkan sudah keropos di makan
rayap di beberapa bagian, hanya di hiasi ornamen lukisan kuno serta koleksi kartu
pos lawas yang di bingkai. Sepi dan kuno mungkin adalah kesan pertama di benak
orang ketika menggambarkan warung kopi tersebut.
Namun jika soal kopi mungkin di kota
semarang ini sulit untuk mencari tandingannya, berbagai kopi arabica maupun
torabica dari seluruh daerah di Indonesia
terpajang rapi dalam toples kaca beserta alat penyajiannya seperti
v60,vietnam drip maupun tubruk. Warung kopi ini hanya di jaga oleh satu
bartender namanya Wawan tubuhnya kecil,hitam dan berambut keriting jauh dari
kesan tampan. Ia hanya bersekolah tamatan SD karena tak mampu untuk ke jenjang
yang lebih tinggi.
Ayahnya hanya seorang petani kopi di
daerah Petungkriyono Kabupaten Pekalongan sedangkan ibunya sudah wafat saat
Wawan berumur 3 tahun, sedari kecil Wawan sudah membantu ayahnya dalam mengolah
kopi, dari mulai saat menanam bibit sampai menyeduh bubuk kopi ke dalam
secangkir gelas sehingga tak heran ia sangat mahir dalam meracik kopi tangannya
begitu terampil dalam menakar takaran kopi yang pas, begitu konsentrasi saat
menyeduhkan air panas dengan suhu yang pas agar saat di teguk nanti tak terlalu
pahit.
Hujan deras di luar sana semakin
membuat suasana menjadi sunyi dan sendu, entah bagaimana tuhan mengatur hujan
selalu selaras dengan kenangan, aroma tanah yang tersiram air mata langit
selalu memiliki rasa sendu sendiri oleh beberapa orang dan suara genting yang
tertimpa air menjadi musik alam yang membuat masa lal dimana hujan hadir maka
masa lalu yang akan membayangi, hujan yang mampu mencipta genangan dan hujan
juga yang mampu membanjiri kenangan.
“Badai
tuan telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra, tiap pagi menjelang ku di
sampingmu kau aman ada bersamaku, selamanya. Sampai jadi debu, kau di liang
yang satu ku di sebelahmu.” (Banda Neira-Sampai jadi debu) Lagu banda neira itu mendayu-dayu dari radio
usang satu-satunya hiburan warung kopi itu dan wawan tentunya, lamunan wawan
terbebas terbang ke masa lalu, menerka sebuah pesan jawaban terakhir sebelum
orang itu pergi meninggalkan jejak yang samar.
“Aku
akan pulang dalam pelukanmu selepas bumi menikahi langit” begitu kata orang itu
kala sebuah pertanyaan terucap dari bibir Wawan di tepi pantai Parangtritis
dengan jingga senja dan ombak laut selatan sebagai saksi bisu bahwa pelukan itu
adalah pelukan terakhir yang di kehendaki illahi.
Dari
kejauhan lampu dan deru suara motor perlahan mendekat menyadarkan lamunan Wawan
yang sudah berlarian sulit di kendalikan lagi. Tampak seseorang turun pria
berisi yang Wawan taksir berusia 40 tahunan dengan baju yang cukup basah oleh
tetes hujan
“Toraja
arabica pake V60” pesan orang itu
Dengan
cekatan tangan-tangan terampil wawan menghaluskan biji-biji kopi toraja arabica
terbaik lalu menyeduhkannya dengan kertas penyaring dan suhu 90ยบ tentunya tidak
kurang dan tidak lebih, serta tak lupa menyajikannya dengan seulas senyum
tipis, bagi Wawan senyum adalah senjata ampuh untuk menarik minat pengunjung.
Suasana
kembali sunyi orang tersebut sudah lelap dalam kenikmatan secangkir kopi seraya
memandangi jendela yang mengembun.
“Mas
rokok” tawar pria tersebut mengagetkan wawan
“boleh
mas” jawab wawan
“Berapa
tahun jadi bartender”
“Baru
4 tahun” kata wawan
“Mas
sendiri darimana ?” tanya wawan
“Aku
baru saja pulang dari gereja, ku minta pastur untuk menikahkan bumi dan langit
namun ia tak bisa”
Hati
wawan bergejolak mengingat kalimat itu sama dengan seseorang yang begitu ia
cintai ketika perpisahan dahulu, kepala wawan penuh tanda tanya apa yang di
maksud dengan hal tersebut, dalam logika wawan bumi dan langit adalah 2 buah
subyek yang tak seharusnya mampu dan pantas untuk menjadi satu bagian yang
utuh, bagaimanapun langit dan bumi selalu ada sekat yang memisahkan, ada takdir
yang tak mungkin bisa untuk di lawan.
“Mas
kalau boleh tau, siapakah yang mampu menyatukan bumi dan langit” tanya wawan
“Entahlah
akupun belum tau sampai saat ini semuanya jika ku minta tak ada yang mampu
menjawabnya” Jawab orang itu kecewa
Hingga
akhirnya hening kembali hadir hingga secangkir kopi itu tinggal seteguk lagi,
dan orang itu akan berkemas pergi lagipula hujan di luar sudah menjadi gerimis
kecil
“Aku
akan berkelana kembali mencari orang yang mampu menikahkan langit dengan bumi
doakan aku” pamit orang tersebut
Hanya kebingungan yang masih mendera
logika wawan sedangkan orang itu sudah setengah jam yang lalu pergi
meninggalkan bangku reot itu, waktu yang sudah menunjukan pukul 23.30 WIB
memaksa Wawan untuk segera berkemas lalu pulang beristirahat bermimpi tentang
hari indah bersama orang yang begitu ia cintai, bagi wawan hari itu adlah hari
yang sangat membingungkan berbagai hal terjadi di luar nalar dan logika yang
dapat ia terima, mungkin tidur adalah cara terbaik untuk melupakan segala luka,
sementara.
Entah
bagaimana saat wawan terlelap, ia kaget karena saat terbangun ia sudah berada
dalam taman luas yang sangat indah di mata wawan, tampak dari kejauhan bumi dan
langit sedang melangsungkan pernikahannya semakin membuat kebingungan wawan,
tak lama menjelang ia melihat pria yang mengunjunginya semalam hadir disitu
bersama perempuan berjilbab merah yang nampak sangat serasi, dan perlahan di
depannya muncul perempuan yang sangat ia cintai selepas kepergiannya di pantai
parangtritis.
Wawan
lalu memeluk perempuan itu melepas segala kerinduan yang sudah memuncak,
bagainya segala penantian menunggunya sudah selesai dan tuntas ia lakukan,
sudah waktunya kini ia dan perempuan itu bersama dalam keabadian. Mungkin setelah
kepulangan dari warung kopinya pria itu sudah menemukan seseorang yang mampu
menikahkan langit dengan bumi hingga kini tak ada batas yang menyekat tak ada
lagi beda yang memisahkan, semua menjadi abadi dalam surga dan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar