Memperingatinya Melalui
Gaya Hidup Masa Kini
Menjaga Eksistensi Bahasa dan Sastra
Daerah, Ya begitu tema yang di ambil PBSD Upgris dalam memperingati hari bahasa
ibu Internasional yang telah di tetapkan oleh UNESCO pada 17 November 1999
bahwa setiap tanggal 21 Februari di peringati sebagai hari bahasa ibu
Internasional. Sejarah bahasa ibu internasional di tetapkan sendiri cukup
dramatis dan menyedihkan, ketika pemimpin negara pakistan memaksa rakyatnya
hanya memakai satu bahasa saja sehingga terjadi perang saudara dan akhirnya
salah satu pihak membentuk negara sendiri yang kini menjadi Bangladesh.
Setelah menjadi sebuah negara yang
merdeka, kerabat para korban perang mengusulkan kepada PBB agar peristiwa
tersebut di peringati sebagai hari bahasa dan pihak PBB UNESCO menyepakati
bahwa akan di namai hari bahasa ibu, sosok ibu yang dianggap memiliki filosofi
kelahiran sehingga terciptanya sebuah Hari Bahasa Ibu Internasional atau lebih
di kenal sebagai bahasa daerah. Sampai saat ini hampir semua universitas
merayakan hari bahasa ibu.
Termasuk Universitas PGRI Semarang khusunya
dari progdi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, dalam memperingati bahasa ibu
internasional telah dilaksanakan berbagai serangkaian yang sudah berlangsung
sejak cukup lama dimulai dari perlombaan menulis cerkak (Menulis cerpen dalam
bahasa jawa) antar SMA Se-Jawa Tengah lalu di lanjutkan puncak acara pada 21
februari tepat perayaan hari ibu internasional dengan seminar nasional dan
pagelaran kethoprak dengan lakon Suminten Edan.
Dalam kegiatan seminar nasional
tersebut menghadirkan berbagai pembicara yang sangat mumpuni di bidang bahasa
daerah seperti Prof Sutrisna rektor UNY,Prof Teguh guru besar sastra jawa
UNNES, dan Ahmad Tohari seorang sastrawan yang melegenda di Indonesia dengan
trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah di terjemahkan ke berbagai bahasa dan
sudah di filmkan dengan judul sang penari pada 2012 yang lalu.
Dalam
orasi budayanya bapak Ahmad Tohari menjelaskan bahwa semakin berkembangnya
zaman bahasa ibu atau bahasa daerah semakin di lupakan oleh masyarakat, seperti
yang kita tau bahasa di Indonesia ada 3
jenis bahasa yaitu bahasa Indonesia,daerah dan asing namun kini porsi ketiganya
sudah tak lagi adil, masyarakat Indonesia lebih suka memakai bahasa Indonesia
serta asing dalam penggunaannya sehari hari.
Padahal
dengan kultur serta pulau-pulau yang banyak tersebar di Indonesia membuat
bangsa Indonesia termasuk pemilik bahasa
ibu terbanyak di dunia, hal ini seharusnya membuat kita bangga dengan turut
melestarikannya dan tak harus malu jika menggunakan sebagai pelengkap
penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Namun sayangnya hingga saat ini bagi
masyarakat awam khususnya di Indonesia masih banyak yang belum mengerti tentang
hari ibu internasional. Jujur saja bagi saya sebagai mahasiswa Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia awalnya ketika di beri kabar mengenai perayaan hari
ibu, saya kira itu adalah sebuah perayaan hari ibu, dan saya baru menyadari
bahwa hari bahasa ibu internasional adalah hari bahasa daerah ketika melihat
pamflet yang terpampang di depan lift.
Butuh berbagai inovasi untuk
mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang perayaan hari bahasa ibu
internasional, apalagi di era moderen seperti ini yang butuh cara kekinian juga
untuk mensosialisasikan hari ibu. Dan
entah suatu kebetulan apa tidak perayaan hari bahasa ibu tahun ini berbarengan
dengan rilisnya film Black Panther dan Yowis Ben.
Kedua film tersebut seakan-akan
ingin membuktikan bahwa tak harus malu menunjukan kultur dan bahasa daerah
masing-masing, film hollywood Black Panther yang nyaris 100% pemerannya
berkulit hitam padahal film tersebut di rilis di Amerika yang dahulu terkenal
ada rasisme kepada orang berkulit hitam namun film tersebut dapat membuktikan
menjadi film terlaris minggu ini dan sambutan publik dunia yang luar biasa
bahkan di nominasikan sebagai film terbaik tahun ini
Lalu
film Yowis Ben karya Bayu Skak seorang youtuber terkenal di Indonesia yang di
gandrungi anak muda yang menciptakan film berjudul “Yowes Ben” dengan dialog hampir 80% memakai bahasa jawa sempat di
kritik oleh beberapa pihak yang seakan-akan hanya menonjolkan satu bahasa saja,
namun Bayu Skak tidak mundur sebagai wujud cintanya akan bahasa ibu yang ia
pakai serta membawa pesan bahwa kita sebagai anak muda harus bangga memakai
bahasa daerah kita masing-masing.
Dan saya rasa apa yang di lakukan
PBSD ini juga salah satu wujud mensosialisasikan hari bahasa ibu yang kekinian,
yakni melalui pagelaran kethoprak yang di kemas ecara menarik dan menghibur di
tambah masyarakat semarang yang saya rasa sudah sangat haus akan hiburan khas
jawa tengah tersebut secara tidak langsung akan mengenalkan bahwa kita penting
untuk nguri-nguri bahasa ibu.
Komentar
Posting Komentar