Langsung ke konten utama

(Cerpen) Surat Dari Februari

Surat dari Februari
Di sudut ruangan, bangku kayu nomor lima dengan degup jantung yang tak kunjung reda.
Ada resah yang tak tak kunjung usai sore itu, gerimis diluar sana yang kian menderas menjelma kenangan. Hampir setengah jam aku terduduk disini, dengan bangku kosong di depanku menunggu untuk seseorang tempati. Lusa lalu seseorang yang sudah lama tak jumpa, menghubungi untuk dapat bersua hari ini.
"Pukul 12 siang waktu Indonesia tepat tidak pake molor di tempat kita dulu" katamu
Tak terasa sudah habis setengah cangkir kopi expresso ku nikmati, entah kenapa sejak mengenal kopi, expresso selalu menjadi pilihan utama yang ku pesan, biasanya getir expresso mampu mengernyitkan dahi lalu menenangkan setiap resah, namun kali ini entah mengapa terasa hambar ku teguk, dan resahku kian menjadi-jadi tak terkira.
“Apa kabar Ndut sudah lama nunggu ya?” sapa seseorang berjilbab merah menyadarkan lamunanku
Meski namaku Agus Tunggal Prasetya namun karena badanku yang ‘tidak kurus’ banyak orang yang memanggilku Ndut. Tak mengapa bagiku  dengan panggilan itu orang-orang dapat lebih mudah akrab mengenalku
“Baru setengah jam yang lalu kok, Puji Tuhan baik-saja seperti yang kamu lihat, tumben kamu bisa telat din” ledekku
Dan wanita di depanku ini namanya Dina Oktaviani seseorang yang pernah menjadi salah satu pemanis saat masa putih abu-abu dulu.
“Iya nih jalanan macet banget sekarang” jawabmu
Ya bagi seorang manusia cantik bernama Dina yang dari dulu selalu menganggap waktu adalah hal yang sangat penting, telat adalah sebuah hal yang mustahil,
“menunggu lebih baik daripada di tunggu karena merepotkan orang lain”  katamu saat memarahiku setiap telat rapat maupun ada janji denganmu
Ya bertolak belakang denganku yang hukumnya haram apabila tepat waktu, ya aku adalah orang yang selalu molor ketika ada suatu rapat atau janji tertentum sebelumnya  saat aku SMP aku adalah orang yang tepat waktu namun karena sering menunggu lama sejak SMA  hingga saat ini entah kenapa aku sudah bosan menunggu sehingga mending telat sekalian pikirku.
“Kamu gendutan ya din sekarang” ledekku
“Haha kalau aku gendut kamu apa ?” Balasmu
“asem banget ya kamu haha” Ya dengan bobot 90 Kg aku tidak bisa mengelak lagi
“Kamu sendiri bagaimana kabar” lanjutku
“Alhamdullilah baik, aku lapar, mau pesan makan juga?”
“Boleh”
“Nasi Goreng seafood pedes banget telornya di dadar” lirikmu menggoda
“Cumi asam manis, pake bawang goreng yang banyak, nasinya setengah” balasku tak mau kalah
“Hahaha” akhirnya kita tertawa berdua,
Ternyata kita masih hafal makanan favorit satu sama lain sejak putih abu-abu dulu, ya masih terekam jelas saat putih abu-abu dulu setelah ekstrakulikuler PMR kita selalu mampir di tempat yang sama seperti saat ini, di bangku yang sama, bangku kayu nomor 5 di pojok, katamu biar kita bebas ngobrol sepuasnya tak perlu risau orang lain terganggu.
Pikirku, waktu cepat sekali berlalu tak terasa aku sudah 2 tahun meninggalkan gelar siswa, dan kini beralih menjadi Mahasiswa. Padahal aku merasa baru saja kemarin di ospek SMA dengan segala aturannya yang berujung tetap saja siswa baru selalu berbuat salah, bukan ospek namanya kalau tidak ada marah-marahan, begitu tradisinya. 
“ Kuliahmu apa kabar” tanyamu
“haha entahlah, aku terlalu sibuk di himpunan semester ini, banyak tanggung jawab yang harus aku tunaikan”
“Kebiasaan kamu dari dulu itu mah, organisasi selalu menjadi nomor satu, kurangin lah, inget umur”
“Dan kebiasaan kamu dari dulu, masih cerewet aja haha” balasku
Walaupun aku seumuran dengannya dia sudah menginjak semester 4 jurusan kebidananan di salah satu  Politeknik kota Solo dan aku sendiri masih semester 2 di Universitas keguruan di Semarang. Ya, satu tahunku terbuang sia-sia karena ambisi yang menguasai ego mengalahkan nalar dan kemampuan yang ku miliki.
“permisi, mohon maaf lama menunggu silakan di nikmati” tutur pelayan perempuan yang ku taksir seumuran denganku
Tak berubah sejak dulu rasa nasi goreng seafood ini masih sama enaknya, pedas,asin,manisnya terasa pas namun sayang porsinya sudah tak sebanyak dulu, ya maklum saja harga barang pokok semakin naik tiap hari dan harga nasi goreng seafood ini masih saja sama, hanya 15 ribu rupiah.
“Kamu kalau makan masih saja lama ya kayak cewek” ejeknya
“iya dong, makan itu harus di nikmati” jawabku
Meski gendut namun aku kalau urusan makan mungkin paling lama diantara lelaki di SMA dan sampai saat ini di bangku perkuliahan, alasannya bukan karena alay atau apapun namun sederhana saja, makan itu kita bayar, terlalu sia-sia kalau cuma sekadar untuk mengisi perut tanpa kita nikmati setiap suapannya.
Sebenarnya terlalu banyak tanya dalam pertemuanku kali ini, manakala lusa lalu kamu mengirim pesan bahwa ada hal yang hendak kamu sampaikan secepatnya. Aku percaya ketika seseorang yang pernah hadir di masa lalu mengajak bertemu maka hanya ada 2 kemungkinan yaitu, rindu ingin berjumpa atau sebuah kabar perpisahan.
“Kamu tahun depan di wisuda ya Din” tanyaku
“doakan saja, kamu dateng ya”
“jika tak ada halangan pasti aku bakal datang”
Dan suasana kembali hening, hanya suara sendok dan piring kita berdua yang beradu, mataku menerawang wajahmu yang tampak kepedasan karena makanan yang kamu pesan, kamu masih saja cantik seperti dulu, ucapku dalam-dalam.
“Aku sholat dulu ya, aku belum sholat nih” ucapmu
“oke sipp”
Kadang aku bingung dengan pendapat segelintir orang yang suka mengkotak-kotakan pertemanan berdasarkan perbedaan agama,latar belakang dan berbagai hal yang sama sekali tidak substansial. Toh jika hanya berteman saja kenapa tidak? Bukankah hidup adalah mencari kawan sebanyak-banyaknya.
“Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda, Aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember,” (Efek Rumah Kaca – Desember)
Alunan suara cholil mahmud tersebut terdengar sangat sendu meski bulan desember sudah lewat 2 bulan yang lalu, mungkin karena pemandangan kaca di depanku yang megembun dan gerimis di luar yang sudah menderas menjadi hujan entah sejak kapan alunan lagu tersebut masih terasa aroma ‘mistis’nya.
“Hey ndut malah ngelamun” suara lembut itu mengangetkanku
“maklum dingin dan hujan gini jadi ngantuk aku” jawabku asal
“Mas kopi gayo medium roasting pake v60 ya” pesanku pada bartender yang kebetulan lewat
“Kurangin kopi lah Gus, ngga baik buat kesehatan” katamu
“Susah Din, bagiku kopi itu udah kaya air putih, ngga ngopi sehari aja kepala udah berasa kayak di hantam palu”
Lagipula menurutku kopi masih dapat di tolerir lah daripada kebanyakan lelaki lain yang lari ke rokok,alkohol, dan wanita buat nenangin pikiran, dan aku adalah lelaki yang langka tidak pernah sekalipun mencicipi itu semua, bagiku kopi udah kayak morfin, penenang dari segala masalah dan pereda dari setiap luka, Sementara.
“Kamu udah ngga jomblo ya Gus,” tanyamu
“haha masih kok din, lagi deket si sama temen satu organisasi tapi ya entahlah nanti lihat ke depan”
“kamu si kebanyakan kriteria, ngga ngaca dulu haha”
“Sialan kamu din, lalu kamu sendiri gimana punya pacar sekarang?”
“enggak lah dosa pacar-pacaran”
“haha yaap betul Din buat apa pacaran kalau ujung-ujungnya nikahnya sama orang lain”
Aku tak kaget mendengar jawabanmu, kamu yang sedari dulu selalu menomor satukan akademik tentu mustahil jika mengikuti kebiasaan yang tidak baik
“Katamu ada yang ingin kamu sampaikan Din, apa itu?
“ohh ya sampe lupa, aku mau memberimu ini” Jawabmu mengeluarkan sesuatu dari tas
Sebuah surat merah jambu, sepertinya tidak mungkin jika sebuah undangan ulang tahun masih hapal di luar kepala 12 Desember adalah hari ulang tahunmu dan dimana di umurmu ke 17 aku memberimu sebuah kado kecil berupa jam tangan coklat tua dari hasilku menabung hampir 6 bulan. Lagipula kamu bukan seseorang yang suka merayakan ulang tahun, ulang tahun bukanlah hal yang seharusnya di rayakan, bertambahnya umur berarti semakin sedikit waktu yang Tuhan berikan katamu waktu itu.
“Wah serius kamu Din setelah lebaran nanti kamu akan tunangan ? hahaha” Tawaku coba menutupi kaget
“Iya doain ya Ndut semoga lancar, kamu dateng ya”
“Amin, iya aku bakal usahain dateng”
Hingga akhirnya datang suatu masa dimana segala doa dan harap tak lagi halal di panjatkan Dimana segala kemungkinan sudah menjadi mustahil dan dimana segala cerita sudah seharusnya menjadi lupa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merelakan Bakti untuk Mereka yang Terbuang

“Tuhan memilihkan jalan untuk saya berbakti kepada mereka yang terbuang” –Endah, Ketua Pengurus Yayasan Rela Bhakti.             Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan dan tidak ingin untuk mengunjungi sebuah tempat yang disebut sebagai panti jompo. Namun, Tuhan berkehendak lain Sabtu, 30 November yang lalu, tugas mata kuliah Psikolinguistik mengharuskan saya bersama teman-teman satu kelompok untuk berkunjung ke salah satu panti jompo di kota Semarang, Panti Rela Bhakti namanya. Yayasan panti jompo yang menampung lansia wanita terbuang dari keluarganya. Yayasan ini merupakan anak cabang dari yayasan serupa di Genuk.             “ Wah sing ganteng kok siji tok kii ” ujar salah satu dari mereka menunjuk saya setelah kami datang berkunjung sore itu. Ya, sore itu saya menjadi pusat perhatian para oma-oma disana karena kebetulan saya laki-laki sendiri. Sejujurnya saya ti...

Problematika Pembelajaran Jarak Jauh

              Sejak penyebaran virus covid-19 yang kian merebak di Indonesia, berbagai kebijakan untuk menanggulangi dampak penularan dibuat oleh pemerintah. Tak terkecuali mengenai kebijakan sekolah di tengah pandemik, yakni pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 9 Maret 2020 setelah menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 2 tahun 2020 dan nomor 3 tahun 2020   tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19)             Sejak resmi diberlakukan PJJ tersebut, berbagai unsur kependidikan baik tenaga pendidik maupun peserta didik mulai sedemikian rupa menerapkan sistem yang paling efisien agar pembelajaran tetap berjalan seperti pada pembelajaran tatap muka atau setidaknya mendekati. Nam...

Pesan Desember

Desember, perihal hujan yang sekian lama tak bertemu dan kamu yang ternyata sekadar bertamu. Tenang saja, ingatan tentangmu akan berumur panjang dan terpelihara dengan baik. kapanpun kamu butuh, datanglah kemari. akan ku suguhkan secangkir kopi susu kesukaanmu sembari ku ceritakan mengenai suatu hari di akhir desember hujan yang lama tak bertemu dan seseorang yang sepanjang tahun sekadar bertamu. Ingatlah sebagai aku yang pernah menjadi bagian paling penting sebelum pada akhirnya menjadi sebatas kenang, tak lagi memiliki bagian. Apa kabar? Lihatlah tanda tanya itu puan, sebagai bukti ada seorang lelaki yang sepanjang tahun bermusim hujan tanpa pernah bersemi Yogyakarta, 27 Desember 2019.