Langsung ke konten utama

(Cerpen) Lastri Perempuan Stasiun




Lastri Perempuan Stasiun
Senja sudah lama terlelap medengkur dengan nyenyaknya, bulan pun sudah tampak gagah diatas kepala, sayup-sayup adzan isya terdengar begitu lirih di telinga terbungkam oleh suara deru-deru kendaraan maupun mulut-mulut yang lebih banyak memutahkan kata-kata dosa.
Di suatu perkampungan kumuh tengah kota Semarang, sebuah bangunan kecil dengan lubang menganga dimana-mana .
“Shadaqallahul Adzim” lantunan suci itu meluncur deras dari bibir Lastri dan Laras, seorang ibu sekaligus ayah dengan putri tunggalnya yang masih berumur 7 tahun dan baru saja duduk di bangku sekolah dasar.
“Yah kok ngajinya sudah selesai Bun” protes laras kecewa
‘Bunda harus bekerja laras” jawab lastri lembut melipat mukena yang sudah lusuh.
“Kalau begitu ajari PR matematika dulu ya bu”
“Maafkan Bunda nak, kamu anak pintar pasti bisa sendiri” rayu lastri sembari mengoleskan bedak di pipi serta tak lupa gincu pada bibirnya yang tipis.
“Yaudah deh” sesal Laras
“Bunda berangkat dulu ya nak”
“Assalamualaikum” pamit lastri
“Walaikumsalam” jawab laras lirih di balik pintu yang sudah tertutup memunggungi kepergian bunda tercinta
            Namanya Lastri Azkadina Zahrany nama yang begitu indah dan sarat makna, orang-orang biasa memanggilnya Lastri singkat saja. Ayahnya meninggal saat lastri duduk di SMA meninggalkan utang yang cukup besar karena hobi berjudinya, sedangkan ibunya dulu hanya penjual nasi uduk pagi hari namun setahun belakngan hanya mampu terlelap di kasur selangkah dengan kematian karena penyakit strokenya. Kakak laki-lakinya sudah pergi entah kemana, malu mungkin memiliki adik kotor seperti lastri.
Kerasnya hidup harus memaksa lastri untuk berhenti kuliah dan membanting tulang untuk menghidupi keluarga sekaligus putri kecilnya yang bahkan ia tak tau siapa ayah kandungnya. Setiap pagi lastri hanya bekerja sebagai buruh cuci dan apapun yang bisa ia kerjakan untuk memperoleh sesuap nasi, namun penghasilan yang di rasa hanya mampu membasahi bibirnya memaksa lastri bekerja pada malam hari, pekerjaan yang hingga saat ini masih mengambang diantara halal dan haram dalam batinnya. Pekerjaan yang selalu meresahkan para kaum hawa namun sangat mulia bagi sebagian lelaki yang tersesat.
“Neng, 100 ribu dah sejam, kamar gue yang bayar” tawar pria botak plontos ompong yang bahkan sudah berbau neraka
Lastri hanya tersenyum, tanda sebuah penolakan halus. Memang untuk perempuan Lastri yang memiliki tubuh tinggi semampai,kulit bersih kuning langsat, tak elok rasanya jika hanya di hargai 100 ribu. Suara terompet diseberang yang meraung-raung, kereta terakhir akan segera berlalu meninggalkan jejak debu dan secuil rindu yang di tinggalkan sebagian orang, pertanda waktu sudah mencapai tengah malam.
Bagi Lastri suara terompet terakhir di stasiun adalah sebuah peringatan bahwa waktu sudah menjadi sia-sia untuk hanya ia habiskan menunggu dan melamunkan beban hidup yang menurutnya tak pernah adil, sudah saatnya ia beranjak untuk berkeliling atau sekedar menata make upnya yang barangkali sudah mulai luntur.
Pekerjaan seperti ini memang menuntut lastri untuk menjadi penipu, mungkin tak hanya Lastri namun wanita lain yang serupa pekerjaannya dengan lastri. Ia selalu di tuntut untuk selalu tampil menawan dan cantik dengan berbagai peralatan, selalu terlihat bahagia meski setumpuk utang memutar di kepalanya, selalu mendesah nikmat ketika di cumbu,di dekap dan di masuki meski sejujurnya tak pernah ada rasa, hambar.
Sudah hampir 2 kali Lastri berkeliling stasiun tak ada satupun pria yang mendekat, yang ada hanyalah tatapan sinis para sesama rekan kerjanya yang semakin sulit dalam mendapatkan pelanggan. Entah mengapa dari pengamatannya akhir-akhir ini waria lebih di minati daripada perempuan tulen seperti dirinya, ah barangkali sekarang gay lebih banyak daripada pria normal, Zaman sudah semakin edan rupanya. Pikir Lastri.
            Tampak dari kejauhan sinar lampu mobil menyilaukan mata indah Lastri, mobil itu perlahan mendekat hingga akhirnya berhenti di depannya dan tak lama seorang pria bertubuh tinggi tegap berambut cepak memakai seragam coklat khas instansi tertentu keluar dari mobil. Umurnya ia taksir seumuran dengannya, cukup tampan dan kaya tentunya. Kata lastri dalam hati
“Selamat malam mbak, sendirian aja”
“iya pak”
“Jangan pak, aku masih muda loh panggil aja Mas Adit hehe”
“ohh baik mas Adit, maaf ya”
“ iya gapapa, kalau kamu namanya siapa?”
“Aku Lastri,”
“Yuk jalan sama aku, aku lagi butuh teman nih”
            Lantas Lastri termenung sejenak apakah menerima tawaran itu, ia takut jika pria tersebut hanya mengajaknya jalan-jalan tanpa ada kenikmatan yang harus ia berikan sedangkan ada setumpuk bon hutang yang harus ia bayarkan esok hari atau para penagih hutang akan menggorok leher jenjangnya.
“Baiklah ayo aku temenin kamu” jawab lastri mantap
            Lastri tak punya pilihan lain, mengingat arloji yang sudah menunjukan pukul 2 dinihari jika ia menolak belum tentu ia mendapatkan yang lain, atau bahkan mungkin ia akan gigit jari hingga fajar menjelang, setidaknya ia dapat berharap walaupun tak memberikan kenikmatan ada beberapa lembar puluhan ribu yang ia dapat guna menyambung hidup esok hari.
“Kita mau kemana?” tanya Lastri di samping kemudi
“Muter-muter aja, aku kesepian malam ini, kalau boleh tau kamu asal mana”
“Aku asli semarang, kalau kamu sendiri” Balik Lastri
“Aku asal pekalongan, cuman saja saat penempatan aja aku di sini”
            Lalu suasana menjadi hening kembali serta di luar mobil nampak hujan mulai turun ke bumi, Lastri bersyukur merasa ia tak salah dalam membuat pilihan ini, jika ia tadi kekeh menolak, mungkin ia sekarang sudah basah kuyup atau berdesak-desakan berteduh di warung angkringan yang tak seberapa luas. Sejenak mata lastri memandangi jauh setiap tetes hujan yang jatuh menempa mobil lalu mengembunkan jendela. Indah, adalah satu kata yang tepat mewakilkan hujan bagi Lastri.
“Yang patah tumbuh, yang hilang berganti Yang hancur lebur akan terobati Yang sia-sia akan jadi makna Yang terus berulang suatu saat henti Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi Yang patah tumbuh, yang hilang berganti” (Banda Neira-Yang patah tumbuh yang hilang berganti) lagu banda neira itu mendayu-dayu menyesaki mobil, menambah kesan sendu di dini hari itu.
Bagi Lastri hujan seolah membawa sekeping rindu dan sendu akan masa lalu yang datang menggebu-gebu. Hujan menjadi salah satu pelipur lara bagi hidup Lastri selain kopi yang nyaris  ia teguk minimal 3x dalam sehari, batin Lastri mengaku bahwa Hujan dan kopi adalah dua hal yang seolah-olah menjadi morfin, penenang dari segala masalah dan pereda dari setiap luka, Sementara.
“Yuk kita ke Hotel depan saja, disini dingin hujan tambah deras” kata Adit mengagetkan
“Baik lah, aku ngikut aja mas” jawab Lastri pasrah
            Mau bagaimana lagi inilah resiko yang harus ia tanggung, pantas saja dari tadi dari pandangan Adit tak lepas dari kaki jenjangnya yang hanya berbalut celana jeans pendek, jakunnya naik turun pertanda hormon estrogen sudah meluap-luap, pastinya sebentar lagi pakaiannya tak lagi utuh beterbangan tak tentu arah, kulit mulusnya akan berdarah tercabik-cabik oleh nafsu, sosok wanitanya akan tertusuk-tusuk hingga berlumuran dosa, hingga pintu neraka terbuka menganga menunjukan jilatan-jilatan api di depan wajahnya.
“Aku akan mandi dulu, biar segar” kata Adit selepas merebahkan diri di ranjang
“Baiklah nanti gantian,” jawab Lastri canggung
            Walaupun Adit adalah pria kesekian yang akan ia layani, namun tetap saja di posisi seperti ini ia masih merasa malu, harga dirinya sebagai wanita seolah-olah hilang seketika, iman yang ia amini tak lagi aman, segala doa menjadi sia karena dosa.
            Tatapan Adit tak berkedip melihat Lastri yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basa, kecantikan dan pesona Lastri beribu-ribu kali lipat lebih menawan, sosok Lastri yang sejak pertemuan awal mampu menghipnotis alam bawah sadar Adit kini di depannya dengan raut wajah lugu dan pasrah memberikan apapun untuknya.
“Kamu sangat cantik Lastri” puji Adit
“Ter..terimakasih mas” Lastri terbata
“Kemari Lastri” seraya menggandeng tangan Lastri
“Baik mas”
Dua keturunan adam dan hawa tersebut larut dalam syahwat yang makin menguasai, pakaian mereka sudah tak lagi utuh, semuanya tenggelam oleh teriakan-teriakan setan menggema merasuk sukma. Jantung yang kian memburu terhunus siap menembak mati siapapun, segala rayuan gombal pernyataan cinta keluar begitu saja di telinga Lastri, tak pernah aja kejujuran di atas ranjang, rayuan maut maupun cinta di malam itu hanya sebatas ranjang.
Lalu akhirnya mereka sudah melebur menjadi satu tubuh yang sama, mereka beradu tentang nikmat apa yang mereka miliki, segalanya menjadi lupa dan waktu beroutar menjadi sangat cepat. saling berjuang bersama untuk menggapai puncak surgawi dunia, surga nikmat yang fana, untuk pada akhirnya nanti di adili oleh sang maha kuasa.
“Aku mencintaimu Lastri...!!! maukah kamu menjadi istriku” Teriak Adit setelah melolosi tulang belulang dari tubuhnya
            Lastri hanya tersenyum kecut melihat serigala yang melolong setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, baginya semua lelaki sama, hanya mencintai tubuhnya bukan paras,hati apalagi imannya. Cinta pada lawan jenis sudah lama ia matikan, baginya segala cinta hanya ia tujukan kepada Allah dan Laras putri kecilnya.
“Terimakasih ya Lastri” kecup bibir Adit pada keningnya
            Selepas pergumulan dua manusia yang bukan muhrimnya itu, Lastri di turunkan kembali di Stasiun dimana tempat ia bekerja dan di berikan beberapa lembar uang ratusan ribu yang ia kira cukup untuk menyambung hidup hari ini.
“Allaahu akbar allaahu akbar” Suara adzan subuh terdengat begitu lirih di telinga Lastri, mungkin suara adzan terlalu suci untuk dia dengarkan.
            Lastri menengok arlojinya yang sudah usang itu, sudah menunjukan pukul 04.00 pagi rupanya, pertanda ia harus segera pulang ke rumah untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sudah sangat letih, entah mengapa meski sudah menjadi rutinitas sehari-hari hari ini ia merasa sangat letih sekali, terkadang ia merasa sudah berada dalam titik yang paling lelah dan ingin menyerah kepada takdir.
            Sudah menjadi kebiasaan Lastri selepas pulang bekerja, hal yang pertama kali ia lakukan di rumah adalah mencium kening Laras dan membangunkannya untuk sholat subuh, memandangi paras cantiknya yang sudah terlelap sambil memeluk boneka beruang hadiah ulang tahunnya 2 tahun yang lalu, mimpi Lastri belum habis meski dengan segala keterbatasan yang ada, masih ada hal yang ingin capai sebelum arlojinya mati, hidup Laras harus lebih baik darinya dan jangan sampai bernasib dengannya.
“Laras ayo bangun, kita sholat subuh bersama” kata Lastri lembut
“sebentaar bun laras ngantuk,” keluh Laras
“ayo lastri, nanti kalau ngga sholat subuh Allah marah loh sama laras” bujuk Lastri
“Baik lah bunda” seraya menahan kantuk
            Bagaimanapun Laras, baginya ibadah adalah suatu hal yang sebisa mungkin ia lakukan, entah bagaimana nanti sholatnya akan mencapai langit atau hanya akan menjadi sia-sia biarlah itu menjadi hak prerogatif Tuhan, baginya yang terpenting ia hanya berusaha sedikit menjadi lebih baik, barangkali selain dosanya yang segunung ada sehelai rambut yang di ampuni oleh-Nya.
“Bunda apakah Laras boleh bertanya?” selepas menunaikan sholat subuh bersama
“iya kenapa sayang”
“sebenarnya apa pekerjaan bunda mengapa selalu jam segini baru pulang”
“Ibu bekerja di restoran dekat stasiun sayang” jawab Lastri
“yaudah yuk sayang kita tidur lagi, besok kamu harus berangkat pagi” sambung Lastri
            Hingga akhirnya Lastri tidur bersama Laras yang memeluk tubuhnya, jika di hitung hampir separuh pikirannya di penuhi oleh resah dan tanya, mengapa hidup serasa tak pernah adil baginya, katanya manusia tak pernah di lahirkan untuk menjadi sia-sia namun dengan kondisinya sekarang, ia rasa hidupnya hanya menjadi benalu bagi orang lain maupun orang terdekatnya.  
Kantuk sudah tak kuasa Lastri tahan, sudah saatnya ia melupakan pahitnya hidup sejenak. Tangan Lastri menengadah dengan bibir komat-kamit merapal doa kepada sang khalik, meski mungkin nanti haram baginya untuk menempati surga-Nya namun setidaknya ada surganya neraka untuknya. Aku Lastri, Perempuan stasiun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merelakan Bakti untuk Mereka yang Terbuang

“Tuhan memilihkan jalan untuk saya berbakti kepada mereka yang terbuang” –Endah, Ketua Pengurus Yayasan Rela Bhakti.             Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan dan tidak ingin untuk mengunjungi sebuah tempat yang disebut sebagai panti jompo. Namun, Tuhan berkehendak lain Sabtu, 30 November yang lalu, tugas mata kuliah Psikolinguistik mengharuskan saya bersama teman-teman satu kelompok untuk berkunjung ke salah satu panti jompo di kota Semarang, Panti Rela Bhakti namanya. Yayasan panti jompo yang menampung lansia wanita terbuang dari keluarganya. Yayasan ini merupakan anak cabang dari yayasan serupa di Genuk.             “ Wah sing ganteng kok siji tok kii ” ujar salah satu dari mereka menunjuk saya setelah kami datang berkunjung sore itu. Ya, sore itu saya menjadi pusat perhatian para oma-oma disana karena kebetulan saya laki-laki sendiri. Sejujurnya saya ti...

Problematika Pembelajaran Jarak Jauh

              Sejak penyebaran virus covid-19 yang kian merebak di Indonesia, berbagai kebijakan untuk menanggulangi dampak penularan dibuat oleh pemerintah. Tak terkecuali mengenai kebijakan sekolah di tengah pandemik, yakni pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 9 Maret 2020 setelah menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 2 tahun 2020 dan nomor 3 tahun 2020   tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19)             Sejak resmi diberlakukan PJJ tersebut, berbagai unsur kependidikan baik tenaga pendidik maupun peserta didik mulai sedemikian rupa menerapkan sistem yang paling efisien agar pembelajaran tetap berjalan seperti pada pembelajaran tatap muka atau setidaknya mendekati. Nam...

Pesan Desember

Desember, perihal hujan yang sekian lama tak bertemu dan kamu yang ternyata sekadar bertamu. Tenang saja, ingatan tentangmu akan berumur panjang dan terpelihara dengan baik. kapanpun kamu butuh, datanglah kemari. akan ku suguhkan secangkir kopi susu kesukaanmu sembari ku ceritakan mengenai suatu hari di akhir desember hujan yang lama tak bertemu dan seseorang yang sepanjang tahun sekadar bertamu. Ingatlah sebagai aku yang pernah menjadi bagian paling penting sebelum pada akhirnya menjadi sebatas kenang, tak lagi memiliki bagian. Apa kabar? Lihatlah tanda tanya itu puan, sebagai bukti ada seorang lelaki yang sepanjang tahun bermusim hujan tanpa pernah bersemi Yogyakarta, 27 Desember 2019.