Aku memang masih utuh dan kata-kata
belum binasa, Solo 18 Juni 1997 -Wiji Thukul
Dewasa
ini sudah jarang sekali film yang bertema sejarah dan sastra, apresiasi tentu
sangat di berikan kepada Yosep Anggi Noen yang berani membuat film yang
pastinya akan menimbulkan kontroversi dan kritik oleh sebagian orang yang
merasa tersindir ,Ya. “ Istirahatlah Kata-Kata” film tentang pelarian Wiji
Thukul ke Pontianak seorang penyair yang menjadi buronan karena melawan rezim
Soeharto saat itu melalui puisi-puisinya yang mampu meracuni ribuan mahasiswa
dan rakyat untuk turun ke jalan menggulingkan pemerintahan serta kisah istri
Wiji Thukul yang setia menanti kepulangan suami.
Tidurlah kata-kata kita
bangkit nanti sebuah narasi suara pembukaan film yang
apik diambil dari penggalan puisi Wiji Thukul dan adegan termenung wiji thukul
dengan tatapan kosong yang lelah seolah-olah memperingatkan penonton bahwa film
ini akan penuh kata-kata ketidakadilan, apalagi bagi saya yang menonton film
ini bersamaan dengan hari HAM sedunia yang di peringati setiap 10 desember.
Mengingat salah satu peristiwa HAM di Indonesia yang sampai sekarang masih
menjadi misteri selain pembunuhan munir adalah menghilangnya Wiji Thukul.
Film
ini memang mempresentasikan ketakutan,kecemasan dari pelarian seorang Wiji
Thukul ke pontianak dengan berpindah-pindah tempat, memang rezim otoriter saat
itu sangat takut kepada seorang Wiji Thukul yang aktif menyuarakan penindasan
melalui kata-katanya sehingga menjadikannya seorang buronan. “Ternyata jadi buron itu jauh lebih
menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenjata lengkap yang
membubarkan demonstrasi” ya sebuah kalimat yang mampu mentransfer bagaimana
takutnya Wiji Thukul saat itu sekaligus mampu menggetarkan emosi para
penontonnya.
Disatu
sisi film ini juga memberikan unsur romantis,kerinduan, dan kesetiaan bagaimana
seorang Sipon istri Wiji Thukul yang tetap setia menanti kepulangan Wiji Thukul
meski harus mengalami intimidasi dari pemerintah, ketika rumahnya terus saja di
awasi intel,polisi dan di geledah serta di rampas buku-buku Wiji Thukul. Lalu
dari sudut pandang Wiji Thukul sendiri wi tengah pelariannya yang enuh
kecemasan ia tetap merindukan istri dan rumah bahkan di akhir pelariannya ia
sempat membelikan celana oleh-oleh untuk istrinya.
Film
ini berfokus kepada kisah perjalanan buron Wiji Thukul bagaimana ia harus
berpindah-pindah tempat,membuat pintu darurat, dan mengganti gaya rambut
membuat KTP baru untuk mempalsukan identitas agar leluasa bepergian, sungguh
ironi ketika sebuah kritik melalui kata-kata harus dibungkam oleh pihak yang
berlumuran dosa. Namun Wiji Thukul tetaplah Wiji Thukul ditengah kekalutan yang
kian menghujani otaknya tak menyurutkan tangan-tangan lemahnya untuk tetap
menulis kata-kata yang membuat ‘Mereka’ kian naik darah, seolah peluru kata
Wiji Thukul lebih mematikan daripada jutaan peluru besi yang dimutahkan kepada
segerombolan demonstran.
Hal
yang wajar memang jika sastra adalah sebuah senjata yang di takuti dalam
sejarah manusia, berbagai peristiwa-peristiwa penting selalu ada sastra yang
hidup untuk ikut memberikan perlawanan, alasannya sederhana, sastra takkan
pernah mati ia abadi di dalam jiwa ribuan orang yang memberi perlawanan, “ Setiap kali kepala seorang sastrawan di
penggal, kebenaran dalam sastra itu akan menitis ke kepala 1000 sastrawan
lain-yakni siapapun mereka yang ‘dikutuk’ untuk menuliskan kebenaran “ Seno
Gumira Ajidarma.
Mungkin
Wiji Thukul sudah mati raganya namun jiwanya sudah lahir ke ribuan bahkan
jutaan orang yang siap melakukan hal yang sama seperti Wiji Thukul, mereka siap
melawan segala tirani yang terjadi negeri ini, semoga saja di era ini semakin banyak orang
semacam Wiji Thukul ini“ apabila usul di
tolak tanpa di timbang, suara di bungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh
subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata, lawan! “ Peringatan
(Wiji Thukul)
Dengan
film yang bertema seperti itu tak heran jika dalam film ini banyak sekali
kata-kata kotor yang di ucapkan oleh Wiji Thukul maupun pemeran lainnya,
seperti salah satu adegan ketika Wiji Thukul membuat puisi untuk kemerdekaan, “ Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai “
selain itu juga ketika percakapan saat makan malam ketika ditanya soal
rekan-rekannya sudah ditangkap dan di bunuh “
kan tadi sudah ku bilang, rezim ini bangsat tapi takut dengan kata-kata “
sehingga perlu pengawasan khusus orang tua agar anak-anak dibawah umur tidak
menonton film ini.
Sutradara
Yosep Anggi Noen juga sangat luar biasa menggarap film ini dengan teknik
pengambilan gambar yang terkesan biasa saja dan permainan efek kamera yang
nyaris tidak ada, hanya mengandalkan akting pemeran yang juga bukan artis
terkenal hanya pemeran amatir yang melalui teater. Bahkan ada satu scene yang
nyaris 4 menit tidak ada perubahan gambar hanya pengambilan dari sudut pandang
namun tidak mengurangi keapikan film dan cenderung menjadi nilai tambah
sendiri, tak heran jika film ini banyak menyabet penghargaan internasional.
Yang
unik lagi di film ini minim percakapan yang panjang dan berbelit-belit
percakapan di film ini hanya sepatah dua patah kata untuk melengkapi akting dan
mimik pemeranya serta penggambaran latar yang luar biasa, hampir 80% percakapan
dalam film ini memakai penggalan puisi-puisi Wiji Thukul sehingga menonton film
ini kita diajak benar-benar mendalami karakter tokoh Wiji Thukul, lebih menarik
lagi sountrack lagu film ini juga dari puisi-puisi Wiji Thukul yang di
musikalisasi oleh Fajar Merah putra dari Wiji Thukul.
Tapi
sayangnya film ini yang tayang di bioskop februari 2016 yang lalu tidak
mendapat respon yang baik dari penonton, terbukti dari minimnya penonton yang
menonton film itu, sungguh sangat mengecewakan mengingat film ini sangat bagus
sekali dan memberikan pesan yang luar biasa, masyarakat Indonesia lebih
menyukai film yang tidak memiliki edukasi dan hanya menceritakan tentang
cinta,cinta dan cinta. Ironi memang ketika dari dunia luar berlomba-lomba
memberikan penghargaan namun di negeri sendiri menonton pun ogah-ogahan, seolah
nasionalisme hanya sebuah pajangan.
Penutup
film ini yang di buat pilu namun di racik sedemikian rupa agar tak terkesan
alay dan berlebihan seakan menambah kesan menarik film ini, bagaimana seorang
Wiji Thukul melewati batas nalar dan ketakutan karena tak kuasa menahan rindu
kepada sang istri dan kampung halaman, meski pada akhirnya pertemuan dengan
sang istri tercinta di solo tersebut menjadi pertemuan terakhir Wiji Thukul
kepada sang istri karena semenjak itu hingga kini Wiji Thukul dinyatakan hilang
dan di yakini menjadi tumbal rezim Soeharto.
Istirahatlah
kata-kata, sebuah wujud pemberontakan dari sebuah penindasan, Istirahat buka
berarti kalah apalagi menyerah, istirahat artinya berhenti sejenak untuk
menghimpun kekuatan meracik strategi untuk kemudian menyerang lebih keras dan
menang. Hilangnya wiji Thukul hanya sementara, ia akan kembali datang dengan
fisik yang baru,lebih banyak dan lebih kuat, ia tak mati, ia abadi, ia hidup di
jutan kepala-kepala menuntut balas dan keadilan. “Karena kebenaran akan terus hidup sekalipun kau lenyapkan, kebenaran
takkan mati, aku akan tetap ada dan berlipat ganda, siapkan barisan dan siap
tuk melawan, aku akan tetap ada dan berlipat ganda, akan terus memburumu
seperti kutukan” (Musikalisasi puisi Fajar Merah, Kebenaran akan terus
hidup, -Wiji Thukul)

Komentar
Posting Komentar