Kartini-Kartini Muda Yang Tangguh Itu Bernama TKW
Adalah
suatu hal yang menarik untuk dibahas esai karya Setia Naka Andrian berjudul
“Film dan Ikhtiar Kesadaran Kolektif” (Tribun Jateng, 5 Agustus 2017) Esai ini
seakan-akan menjadi angin segar bagi dunia perfilman dan para sineas-sineas
muda Indonesia tentunya. Mengingat dalam beberapa tahun terakhir industri film
Indonesia sedang dalam lesu-lesunya yang tentu saja menjadi hambatan para
sineas-sineas muda tanah air dalam berkarya.
Memang
bukan hal yang aneh jika Masyarakat Indonesia akhir-akhir ini menjadi lebih
gemar menonton film-film produser ternama luar negeri semacam Marvel dan DC
Comics daripada menonton film karya anak bangsa mengingat masyarakat sudah
suntuk,bosan,muak dijejali oleh film-film Indonesia yang lebih menonjolkan
syahwat perempuan daripada mengunggulkan alur cerita,akting,kualitas dan
indikator lainnya sebagaimana mestinya.
Lesunya
minat masyarakat dalam menonton film Indonesia selaras dengan kian merosotnya
jumlah sineas muda dalam berkreasi memproduksi film-film mereka. Ditambah lagi
para abdi negara di pemerintahan dan instansi terkait lebih hobi ‘Membuncitkan’
perut daripada memperhatikan dan memberikan wadah bagi para sinemas muda untuk
tetap berkreativitas semakin menenggelamkan asa para sinemas muda untuk tetap
berkarya.
Bapak
Setia Naka Andrian melalui tulisan esainya ini mencoba kembali menumbuhkan
minat masyarakat dalam menonton film-film Indonesia khususnya film karya para
sineas-sineas muda tanah air, bahwasanya masih ada film Indonesia karya sineas
muda tanah air yang cukup mendidik dan berkualitas (Setidaknya lebih
memanusiakan manusia daripada film “disana” yang hanya merendahkan derajat
wanita).
Tentu
saja bukan hal yang mustahil memajukan dunia film Indonesia melalui
tangan-tangan para sineas muda yang miskin pengalaman dan pamor, berkaca pada
dunia musik misalnya, beberapa tahun yang lalu pasca turunnya pamor band-band
karena regenerasi jaman semacam Sheila on 7,Peterpan,Ungu musik Indonesia
seakan mati, namun. Ditangan para pemusik yang berawal dari jalanan,iseng-iseng
dan miskin pengalaman atau yang kini biasa disebut musisi Indie dunia musik
Indonesia kini mulai naik kembali.
Hal
itu dibuktikan dengan kian melejitnya para pemusik Indie semacam Payung
Teduh,Banda Neira,Mocca,Dialog Dini Hari yang lagu-lagunya dapat diterima baik
disemua kalangan umur karena kualitas musik mereka. Tentu hal ini dapat
dijadikan motivasi para sinemas muda untuk tetap berkarya. Jika dunia musik
saja mampu kembali naik melalui tangan-tangan para anak muda yang berkreatvitas
tanpa batas, maka bukan hal yang tidak mungkin jika perfilman Indonesia dapat
kembali bangkit ditangan para sinemas-sinemas mudanya.
Serupa film yang dibahas dalam esai ini juga
karya Mustofa seorang sinemas muda yang baru berusia 19 tahun asal Kendal
berjudul Reksa film ini secara garis besar bercerita tentang seorang anak yang
ditinggal pergi Ibunda tercinta merantau ke negeri orang sebagai TKW karena
himpitan ekonomi yang menimpa keluarga mereka, sebuah potret kisah yang kental
akan realita dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Kendal. Sehingga diharapkan
film tersebut ada nilai edukasi dan lebih mudah diterima serta dinikmati oleh
khalayak luas.
Memang sudah banyak para sineas-sineas muda
yang mengangkat masalah didaerahnya sebagai topik filmnya. Film reksa ini seolah-olah
mengingatkan saya sebagai penulis akan film Siti yang dibuat oleh sinemas muda
asal Yogyakarta mengangkat kehidupan masyarakat disekitar pantai Parangtritis,
hingga film Siti dinobatkan sebagai film terbaik pada ajang penganugerahaan
Festival Film Indonesia tahun 2015 yang lalu. Tak menutup kemungkinan jika
nantinya film Reksa akan bernasib sama, Semoga.
Namun, Esai berjudul Film dan Ikhtiar Kesadaran
Kolektif yang mengangkat film berjudul Reksa, Jika ditilik kembali melalui
sudut pandang lain dan realita yang ada maka kisah dalam film ini sudah kuno
dan tak lagi relevan untuk dijadikan bahan pembelajaran bahwasanya menjadi TKW
adalah suatu hal yang tak lazim di era yang serba susah mencari lahan pekerjaan
seperti sekarang.
Ideologi bahwa seorang suami harus menjadi
tulang punggung seorang dalam keluarga diera milenial seperti ini sudah tak
dapat dipaksakan, mengingat kondisi biaya hidup di Indonesia yang semakin mahal
tidak disertai dengan bekal pendidikan yang mumpuni serta jumlah lowongan
pekerjaan yang mencukupi, sudah menjadi lazim jika seorang istri adalah seorang
wanita karier https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160308121332-277-116053/wanita-karier-indonesia-terbanyak-keenam-di-dunia/ tentu banyak kasus disekitar kita meski
pekerjaan suami sudah lebih mencukupi namun para wanita tetap bekerja untuk
menumpuk kekayaan hingga semakin menciptakan kesenjangan sosial di dalam
bermasyarakat
Kesenjangan sosial yang semakin mencolok tentu
menambah sulit masyarakat yang berada kelas ekonomi bawah untuk mendapatkan
pekerjaan yang berkecukupan memaksa istri mereka harus membantu suami bekerja
agar untuk tetap hidup, ditambah tingkat rata-rata pendidikan perempuan
Indonesia yang rendah semakin mempersulit mereka mendapatkan sesuap nasi (http://www.antaranews.com/berita/625311/mensos-prihatin-banyak-perempuan-berpendidikan-rendah) .
Adanya “Penghargaan” Jawa Tengah sebagai
provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi kedua dalam skala nasional (http://www.solopos.com/2017/03/11/angka-kemiskinan-jateng-tertinggi-kedua-se-indonesia-800478) semakin mempertegas bahwa diwilayah Jateng
lahan pekerjaan sudah sangat sulit untuk didapatkan, sehingga mau tidak mau
menjadi TKI/TKW adalah salah satu alternatif terbaik agar dapur keluarga tetap
bisa mengepul, saling berbagi peran suami bekerja dirumah mengurus anak dan Ibu
bekerja diluar negeri sudah menjadi opsi terakhir yang lumrah dipilih.
Soal
rasa sedih meninggalkan buah hati dan kampung halaman sudah barang tentu
dirasakan, namun jika memang itulah jalan terbaik dan terakhir yang ada mau
bagaimana lagi? Saya sebagai penulis yakin cinta ibu sepanjang masa, apapun
akan dilakukan untuk sang buah hati tercinta, asal masih dalam kaidah dan
halal. Bahkan masih banyak Ibu-ibu lain yang bahkan rela menembus batas dosa
menjadi “Pemuas Nafsu” seperti berita yang dimuat oleh KPAI http://www.kpai.go.id/berita/tak-semestinya-kudidik-anakku-dengan-gincu/
semuanya hanya dilakukan demi masa depan anak dan keturunannya nanti agar dapat
hidup lebih baik darinya dan tak harus bernasib sama dengannya.
Sehingga
pendapat pribadi penulis film “Reksa” ini jika diambil dari sudut pandang
seorang wanita tak seharusnya menjadi TKW sudah tak semestinya untuk
diperdebatkan lagi, semuanya sudah jelas bahwa mereka hanya manusia-manusia
kuat yang tak kenal lelah untuk hidup bahagia, mereka hanya orang-orang kecil
yang berharap generasi penerusnya dapat menjadi pemimpin negeri, mereka hanya
umatnya yang mencari rejeki tetap di jalannya. “Kehidupan ini tak selalu
memberikan kita pilihan terbaik. Terkadang yang tersisa hanya pilihan-pilihan berikutnya.
Orang yang bahagia selalu berpegangan pada pilihan kedua yang terbaik.“ –Tere
Liye, dalam novelnya berjudul Berjuta Rasanya.

Komentar
Posting Komentar