Agama Sebagai Kedok Ekstremisme Brutal Oknum Teroris
Ekstremisme atau al-tatharruf artinya adalah
berlebihan dalam memahami suatu paham agama yang dianutnya, lebih tepatnya
menjalankan agama secara kaku dan berlebihan melewati norma-norma sosial yang
berlaku. Seperti menganggap seseorang berbeda agama sebagai kafir, musuh yang
harus dibunuh sebagai jihad kepada agama. Dari paham ekstremisme itulah lahir
kelompok-kelompok tertentu yang menjadikan aksi teror sebagai aksi jihad kepada
agama
Ekstremisme menjadi
paham yang semakin meluas di Indonesia penyebab utamanya karena keliru dalam
memahami agama,fanatisme yang berlebihan dan egoisitas bahwa pendapatnya adalah
selalu benar, yang utamanya bahwa masyarakat Indonesia yang mudah di doktrin
dan di provokasi jika agamanya di pelintir, apalagi karena doktrin yang ada
sudah terjadi di sekolah-sekolah bahkan didalam keluarga sendiri sedari kecil,
sehingga kini banyak di temui orang-orang yang dengan mudah mengkafirkan orang
lain yang berbeda suku,ras,agama. bersikap seperti Tuhan seolah-olah surga dan
neraka ada di tangannya
Hal itu berdampak
pada kian maraknya aksi teror karena fanatisme yang berlebihan pada agama yang
dianutnya, ekstremisme yang kian menguat memunculkan ide untuk melakukan
hal diluar batas kemanusiaan dengan
alasan jihad membela agamanya yang di rendahkan. Misal kasus teror yang menimpa
Barcelona,London, dan tak lupa kasus Rohingnya juga terjadi akibat fanatisme
terhadap agama yang berlebihan mengalahkan rasa kemanusiaan yang seharusnya di
junjung setinggi-tingginya
Aksi terorisme yang mengatasnamakan jihad agama
menjadi permasalahan global saat ini, sejarah mencatat kelompok teroris mulai
sangat tersebar diberbagai negara pasca peristiwa WTC 11 September 2001. Saat
itu Amerika melancarkan aksi balasan dengan membombardir wilayah timur tengah
karena dianggap sebagai sarang teroris yang bertanggung jawab dalam peristiwa
WTC. Semenjak kejadian itu banyak lahir kelompok-kelompok yang dari dulunya menganut
paham ekstemisme mulai berani untuk melancarkan aksi teror di berbagai negara,
seperti Taliban,ISIS dan di Indonesia lahir kelompok teroris Majelis Indonesia
Timur (MIT), Kelompok Poso dan masih banyak lain.
Jika tak segera dihentikan tentu saja paham
ektremisme yang menjalar terorisme akan semakin eksis dan menghancurkan dunia
secara perlahan-lahan. Sara Zeiger (2016) dalam "Melemahkan Narasi
Ekstremis Brutal di Asia Tenggara", menyatakan bahwa selama ini 4 narasi
utama dalam rekrutmen kelompok teroris yaitu narasi religius atau ideologis,
narasi politik, narasi sosial, dan narasi ekonomi. Sehingga tidak cukup
membrantas teroris jika hanya berfokus pada hukuman ataupun tindakan militer,
faktanya teroris yang dihukum mati akan menimbulkan dendam bagi
pengikut-pengkutnya untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi.
Perlu tindakan dari berbagai unsur TNI,Tenaga
Pendidik dan Pemuka Agama tentunya. Upaya pencegahan yang utamanya tentunya dengan
memberikan arahan kepada organisasi-organisasi untuk tidak terlibat dalam
kegiatan ekstrimisme yang menjurus terorisme. Hal ini akan lebh efektif jika
yang melakukan pencegahan dari mantan-mantan teroris yang pernah mencicipi
pahitnya menjadi terorisme.
Lalu cara yang kedua adalah para pemuka-pemuka agama
yang hakekatnya setiap perbuatannya menjadi rujukan paling mujarab untuk
menyatukan NKRI dengan selalu menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama
dalam kehidupan bermasyarakat, mengingat akhir-akhir ini banyak para ulama yang
naik diatas mimbar berteriak-teriak “BUNUH BAKAR MATI !!!” Tentu saja hal itu
dapat menumbuhkan benih-benih ekstremisme bagi para pengikutnya.
Dan yang terakhir adalah dengan memberikan
doktrin-doktrin anti ekstrimisme sedari kecil di bangku sekolah oleh para
tenaga-tenaga pendidik misal dengan memberikan pelajaran pancasila yang memuat
toleransi beragama sedini mungkin, hal ini akan sangat efektif menghentikan
paham ekstremisme dimasa depan. Generas-generasi yang akan datang tak perlu
lagi kata-kata yang bermandi darah, tak perlu berebut ego agama siapa yang
paling benar.
Tentu kita sangat setuju, taat beragama tak harus
menjadi pribadi yang ekstremisme, karena sejatinya semua agama adalah baik,
tidak pernah ada agama yang memberikan ajaran untuk memusnahkan sesamanya,
“Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstrimis memutarbalikkannya” –KH.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Workshop dan Pelatihan Menulis Di Semarang 2017 Qureta.com
Komentar
Posting Komentar