Suatu malam di deretan ruko kawasan Semawis Semarang sebuah warung kopi sederhana tidak ada bangku yang nyaman,ac apalagi wifi. Yang ada hanya papan nama yang sudah lapuk,bangku kayu panjang dan meja yang bahkan sudah keropos di makan rayap di beberapa bagian, hanya di hiasi ornamen lukisan kuno serta koleksi kartu pos lawas yang di bingkai. Sepi dan kuno mungkin adalah kesan pertama di benak orang ketika menggambarkan warung kopi tersebut. Namun jika soal kopi mungkin di kota semarang ini sulit untuk mencari tandingannya, berbagai kopi arabica maupun torabica dari seluruh daerah di Indonesia terpajang rapi dalam toples kaca beserta alat penyajiannya seperti v60,vietnam drip maupun tubruk. Warung kopi ini hanya di jaga oleh satu bartender namanya Wawan tubuhnya kecil,hitam dan berambut keriting jauh dari kesan tampan. Ia hanya bersekolah tamatan SD karena tak mampu untuk ke jenjang yang lebih tinggi. ...