Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Catatan Pagiku : Masih Tentangmu

Pagi ini kuhitung adalah pagi ke 5 selepas kamu memberi keputusan Pagi ini masih sama dengan segelas kopi yang pahit di lidah Masih dengan tentangmu yang getir di ingat Masih dengan bimbang yang menyesaki kepala Baru kusadari ternyata bimbang melupakanmu lebih sulit dari sekedar memilikimu Tentang sebuah keinginan untuk menemukan pelabuhan lain Atau aku hanya berdiri di ujung dermaga Menunggu kamu akan mencintaiku suatu saat nanti Seperti yang kamu katakan beberapa hari yang lalu Sebab sejak saat rasa ini jatuh kepadamu Hampir separuh waktuku lelap bersama mimpi Yang aku pun tak tau kapan akan berakhir Aku masih saja mengharapkanmu seperti candu yang tak ingin ku akhiri Semarang. 21 Januari 2017 05:18 WIB

(Cerpen) Lastri Perempuan Stasiun

Lastri Perempuan Stasiun Senja sudah lama terlelap medengkur dengan nyenyaknya, bulan pun sudah tampak gagah diatas kepala, sayup-sayup adzan isya terdengar begitu lirih di telinga terbungkam oleh suara deru-deru kendaraan maupun mulut-mulut yang lebih banyak memutahkan kata-kata dosa. Di suatu perkampungan kumuh tengah kota Semarang, sebuah bangunan kecil dengan lubang menganga dimana-mana . “Shadaqallahul Adzim ” lantunan suci itu meluncur deras dari bibir Lastri dan Laras, seorang ibu sekaligus ayah dengan putri tunggalnya yang masih berumur 7 tahun dan baru saja duduk di bangku sekolah dasar. “Yah kok ngajinya sudah selesai Bun” protes laras kecewa ‘Bunda harus bekerja laras” jawab lastri lembut melipat mukena yang sudah lusuh. “Kalau begitu ajari PR matematika dulu ya bu” “Maafkan Bunda nak, kamu anak pintar pasti bisa sendiri” rayu lastri sembari mengoleskan bedak di pipi serta tak lupa gincu pada bibirnya yang tipis. “Yaudah deh” sesal Laras “Bunda ber...

Januari

Januari Hari masih mudah menghitung angka Selepas api yang nanar di semesta tentang rentang jarak berpeluk doa harap yang kian terkikis usia Bersama janji yang terucap kala senja Januari Hujan sehari-hari kenangan yang menggenangi Selepas resah yang sudah menghabisi Lelahku sudah sepakat untuk selesai Tinggal diksiku yang perlu kamu tunggu bukti Bahwa aku belum bisa pergi ke lain hati.